Pendahuluan
Sejak 1970an seruan Science Islam mulai bergema di dunia
Islam, seruan ini dimulai oleh Ziaudin Sardar, Abdul Salam, Ahmad Zaki, Al-Faruqy, Syed Muhammad Naguib Al-Atas dan
banyak scientists muslim lainnya, namun ternyata banyak pihak yang salah
memahami pengertian Science Islam, yang dianggap sebagai suatu hasil science
yang bernuansa religius islam sebagaimana pandangan pak Dr. iones rahmat
terikut ini;
===============
Yang ingin saya temukan, misalnya matematika Islam, atau astronomi Islam, ilmu ukur Islam, ilmu kedokteran Islam, psikologi Islam, dll, apakah akan bisa ada dalam dunia ini? Misalnya, menurut ilmu ukur Islam, sudut siku-siku bukan 90 derajat, tapi 97 derajat, sudut lingkaran bukan 360, tapi 357 derajat. Atau, Dr. Zarman bisa usulkan, menurut kosmologi Islam, jagat raya kita baru berusia 6000 tahun, bukan 13,72 milyar tahun.
Pada paragraf
lain;
Dr. Zarman juga menegaskan bahwa sains Islam harus pertama-tama bertolak dari “pengakuan” akan wujud dan keberadaan Tuhan Alloh SWT. Kalau memakai istilah sains yang umum, “pengakuan” (atau “keimanan”) disebut sebagai “aksioma” atau “postulat”. Ya, Dr. Zarman tentu benar, sebab setiap sains, termasuk sains eksakta, bukan hanya sains Islam, berpijak pada suatu aksioma atau postulat. Aksioma atau postulat adalah sebuah pernyataan tentang sesuatu yang kebenarannya tak diragukan lagi, hanya diterima benar apa adanya, tak perlu dibuktikan.
===============
Sumber : http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/12/dr-wendi-zarman-mau-membangun-sains.html.
Sumber : http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/12/dr-wendi-zarman-mau-membangun-sains.html.
Misspersepsi ini terjadi saya kira karena pak Dr. Ioanes
Rahmat kurang memahami secara mendalam gagasan islamisasi science itu sendiri.
Padahal yang dimaksud dengan science islam oleh para
pencetusnya adalah, suatu perumusan ulang paradigma science itu sendiri, di
mana pada dasarnya science tidaklah bebas nilai, namun memiliki muatan2
subjektif yang tidak secara eksplisik tampak dalam berbagai penelitian seorang
scienctis. (insya Alloh akan dibahas lebih lanjut).
Karenany,a benarlah kiranya apa yang disampaikan oleh Dr. Wendi Zarman
ini;
==============
Wacana sains Islam adalah wacana yang sangat filosofis yang berakar dari pemikiran mengenai hakikat ilmu di dalam Islam. Maka ketika berbicara ilmu sains, maka disitu terkait dengan apa makna ilmu, tujuan mencari ilmu, penggolongan ilmu, makna kebenaran, tingkatan wujud (realitas), saluran-saluran ilmu, makna alam (yang satu akar kata dengan ilmu), metodologi penarikan kesimpulan, adab-adab menuntut ilmu, dan lain sebagainya. Maka proses islamisasi ilmu alam (sains) tidak lain adalah mengislamkan persoalan-persoalan di atas dengan cara meletakkannya dalam kerangka pandangan hidup Islam (Islamic Worldview).
==============
Sumber: http://www.hidayatullah.com/read/26246/07/12/2012/mengislamkan-sains:-apanya-yang-diislamkan?-.html.
Perumusan ulang ini meliputi;
- PARADIGMA
- PANDANGAN METAFISIKA
- PANDANGAN ONTOLOGIS
- PANDANGAN EPISTEMOLOGIS
- PANDANGAN AKSIOLOGIS
- PANDANGAN NORMATIF
Begitu juga dengan aksioma eksistensi Tuhan yang dikritisi
oleh Dr. Ionanes Rahmat, yang sudah tentu saja sebenarnya aksioma itu tidak
bisa terbantahkan kecuali ada bukti-bukti ilmiah yang menujukan hal sebaliknya.
Sebagaimana materailisme menjadi jalan mulus bagi aksioma nihilisme Tuhan bagi
para scientist yang Atheis, yang juga tidak dapat dimentahkan kecuali ada
bukti-bukti sebaliknya.
Hal inilah yang membedakan aksioma science dengan hasil
science itu sendiri.
A. PARADIGMA
Sebagaimana kita ketahui, bahwa science tidak dapat
dipisahkan dari pandangan dunia n sistem2 keyakinan /metafisika yang dimiliki
scientist baik secara personal mamupun secara kolektif.
Pandangan dunia/paradigma[i]
inilah yang selanjutnya membedakan hasil akhir suatu analisis atas satu masalah
yang sama.
Sebagai contoh yang sangat jelas 2 kesimpulan scientist yang
berbeda atas fakta kesempurnaan tata surya, di mana seorang scientist bisa
langsung menjadi lebih mengakui keagungan Tuhan, sementara lainnya justeru
mengingkari eksistensi Tuhan melalui fakta2 ilmiah tersebut.
Hal ini tidak lain karena, paradigma scientist pertama
didasari atas filsafat Materialisme, sedangkan paradigman scientist kedua
didasari oleh Theisme.
Scientist pertama diwakili oleh Richard Dawkin, dan
scientist kedua diwakili oleh Charles Townes, pemenang hadiah nobel fisika , di
mana ia berkata;
Saya tidak membedakan science dan agama, akan tetapi memandang penjelajahan alam semesta sebagai pengalaman religius[ii].
Unsur-Unsur Paradigma:
pertama, generalisasi simbolis milik bersama (shared
symbolic generalizations), yakni anggapan-anggapan atau asumsi-asumsi teoritis
pokok yang diyakini bersama, yang tidak dipertanyakan lagi kebenarannya.
Kedua, model-model (models), yakni analogi atau perumpamaan
mengenai gejala yang dipelajari, dan disepakati sebagai “alat perantara“
(heuristic device) untuk melakukan penelitian.
Ketiga, nilai-nilai (values). Kuhn berpendapat bahwa
komunitas ilmuwan pada dasarnya menganut nilai-nilai tertentu dalam kegiatan ilmiahnya.
Keempat, prinsip-prinsip metafisis (metaphysical
principles), yakni asumsi-asumsi yang tidak perlu diuji tetapi menentukan arah
penelitian (Newton-Smith, 1981:105).
Kelima, masalah-masalah kongkrit – Kuhn menyebutnya “exemplar“
– , yakni masalah-masalah yang
dipelajari beserta cara-cara penyelesaiannya.
Dan sebagai perbandingan pentingnya suatu paradigma dalam
sience, maka saya sebutkan beberapa
Perdebatan ilmiah yang hadir dalam ranah
paradigma;
1. perdebatan determinisme dan indeterminisme
Baik teori relativitas maupun teori kuantum, keduanya
memiliki implikasi yang besar pada pemikiran filosofis manusia tentang diri dan
alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas
dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan, bermula pada suatu
peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu dentuman besar. Teori
kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk
jagat raya di awal hidupnya, peristiwa-peristiwa fisik merupakan kebetulan
tanpa sebab.
Teori relativitas berujung pada keniscayaan atau kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada kebetulan atau ketidak pastian. Kedua teori itu berujung pada bangkitnya kembali perdebatan antara aliran determinisme (serba-pasti) dan indeterminisme (serba-tak-pasti).
Teori relativitas berujung pada keniscayaan atau kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada kebetulan atau ketidak pastian. Kedua teori itu berujung pada bangkitnya kembali perdebatan antara aliran determinisme (serba-pasti) dan indeterminisme (serba-tak-pasti).
2. Reduksionisme Newton vs Holisme Lagrangan
Sebagaimana kita ketahui, mekanika Newtonian memandang
sistem mekanik dengan reduksionisme (parsial), di mana sistem harus dipecah
menjadi potongan-potongan kecil. Setelah masing-masing potongan dapat
diselesaikan, maka potongan-potongan tersebut dirangkai ulang sebagai sistem
semula.
sementara mekanika Lagrangan
memandangnya dengan holisme (menyeluruh). Di mana sistem dipandang
secara utuh dan tidak dipecah (dipandang secara holistik).
Kedua perbedaan dalam aspek cara pandang ini, terkadang
memiliki implikasi yang sangat besar dalam kesimpulan dan wordview seseorang,
selain tentu teknik reduksionisme mamupun holisme yang diambil oleh sang
scientist tentu didasarkan paradigma scientist itu sendiri dalam memandang
dunia.
3. Paradigma Cartesius-Newtonian vs Fisika Modern (Relativitas)
Sebagaimana kita ketahui, Newtonian tidak pernah memasukan
perhitungan waktu dalam rumusnya, hal ini karena dalam paradigma newtonian alam
semesta Newtonian: Ruang bersifat dan waktu bersifat absolut.
Namun dengan Teori Relativitas Khusus, kita tidak lagi
melihat ruang sebagai wadah kosong yang berisi benda-benda, tapi sebagai relasi
antar benda.
Sedangkan teori relativitas Umum menjadikan gaya gravitasi
antar benda sebagai manifestasi lengkungan pada ruang.[iii]
Dalam hal ini ada beberapa hal yang patut dicermati;
Bahwa wlaupun Teori Relativitas waktu telah merubah
PARADIGMA cartesius-Newtonian, namun begitu telah banyak hasil-hasil science
yang telah didapat dari paradigma newtonian ini, Karena mekanika Newton selain
terbukti dalam astronomi, para fisikawan telah berhasil pula membuktikan
kebenaran mekanika ini dalam bidang gerak cairan dan aliran gelombang, teori tentang
panas bisa direduksi menjadi mekanika ketika disadari bahwa panas adalah energi
yang dihasilkan oleh suatu gerakan yang berguncang yang kompleks dari atom dan
molekul. Dengan demikian, banyak fenomena panas seperti penguapan air, suhu,
tekanan gas bisa dipahami dengan baik dengan sudut pandang mekanika newtonian
ini.
Hal lain mengapa membangun suatu paradigma begitu penting
adalah;
a. Paradigma tidak mudah goyah dengan penemuan-penemuan science yang
bersifat tentatif dan relatif, termasuk terhadap anomali-anomali yang ada,
bahkan biasanya akan datang scientist lain yang melakukan perbaikan atas
paradigma tersebut.
Dapat saya sebutkan di sini, mengenai teori EVOLUSI yang
banyak memiliki anomali, banyak dikeritik dan juga belum terbukti secara
empiris, namun kamu ultraevolusionis senantisa melakukan perbaikan-perbaikan
demi menutupi berbagai anomali yang ada.
b. paradigma membantu mengarahkan scientist dalam melakukan
analisis ilmiahnya, karena paradigma memiliki unsur-unsur (1) asumsi-asumsi dasar; (2) nilai-nilai; (3) model; (4) masalah-masalah
yang ingin diselesaikan/dijawab; (5) konsep-konsep; (6) metode penelitian; (7)
metode analisis; (8) hasil analisis dan
(9) representasi, maka sejara sadar sang
scientist telah diarahkan oleh paradigma yang telah dipegangnya.
c. Paradigma tidak secara eksplisit masuk dalam rumusan sang
scientist, di mana hal2 yang tidak secara eksplisit ini adalah; Asumsi dasar,
Model dan Nilai-nilai[iv]
d. Paradigma adalah sumber peperangan atar scientist itu
sendiri.
Sebagaimana kita kitahui, berbagai hasil akhir suatu
penelitian dapat saja disimpulkan secara berbeda oleh setiap scientist, hal ini
tidak lain karena hasil kesimpulan scientist itu didasari oleh paradigma
masing-masing, dan tidak jarang, paradigma inilah yang memicu suatu penelitian
dalam bidang-bidang tertentu, manakala hasilnya mendukung paradigma scientist,
maka hasil science itu menjadi senjata untuk menyerang paradigma lawan[v].
Karenanya menjadi tidak muduh untuk menyatakan bahwa suatu
hasil dari science bersifat bebas nilai, hal ini karena nilai-nilai itu
senantiasa tidak pernah dimunculkan secara eksplisit, namun setiap peneliti
akan mampu menilai afiliasi paradigma scientist melalui aksiologi dan
kesimpulan akhirnya, sebagaimana siapapun dapat menilai bahwa Richard Dawkin
adalah penganut Ultradarwinisme, tanpa perlu menunggu pernyataan resmi Dawkin.
[i]
Paradigma berarti: konsep yang jelas atau pola pemikiran, sementara Thomas Khus
mendevinisikan paradigma science sebagai:
"universally recognized scientific achievements that, for a time, provide model problems and solutions for a community of researchers.
Prestasi-prestasi ilmiah yang diakui secara universal, yang untuk sementara waktu, memberi berbagai model problem dan solusi untuk komunitas penelitiyang menyediakan berbagai model problem san solusi untuk komunitas peneliti.
http://en.wikipedia.org/wiki/Paradigm
"universally recognized scientific achievements that, for a time, provide model problems and solutions for a community of researchers.
Prestasi-prestasi ilmiah yang diakui secara universal, yang untuk sementara waktu, memberi berbagai model problem dan solusi untuk komunitas penelitiyang menyediakan berbagai model problem san solusi untuk komunitas peneliti.
http://en.wikipedia.org/wiki/Paradigm
[ii]
Synthesis of Science and Religion: Critical Essays and Dialogues, T.D. Singh n
Ravi Gomatam, hal. 41.
[iii] Pengantar
Epistemologi Islam, oleh Mulyadhi Kartanegara, kata Pengantar, oleh Armahedi
Mahzer, Penerbit Mizan, hal. xx,
[iv]
Paradigma dan Revolusi Ilmu Dalam Antropologi Budaya, Pidato Pengukuhan Jabatan
Guru Besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Oleh: Prof.Dr.
Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., hal. 9.
[v] Untuk
mengkaji pembahasan ini lebih lanjut dapat dibaca pada;
Revolusi Integralisme Islam, oleh Armehedi Mahzar,
Bab 9: Perang Antar Paradigma: Serangan Balik Neoreduksionisme, Penerbit: Mizan.